Selasa, 21 Agustus 2012

Lorong Pluralisme, Masjid dan Pure.



Di sebelah timur pasar umum Cakranegara, terdapat sebuah lorong kecil yang lebarnya sekitar 2 setengah meter. Lorong atau gang kecil ini jika diperhatikan bukanlh sebuah lorong istimewa namun biasa-biasa saja. Dua temboknya adalah tembok dari batu bata. Sedangkan lantai lorong dipasangi paping blok biasa. Tak terlihat istimewa. Namun jika dicermati, lorong ini sebetulnya adalah pelajaran besar bagi banyak orang, ditengah sulitnya mempertemukan atau menyatukan perbedaan-perbedaan yang ada. Lorong ini memisahkan dua tempat ibadah yang berdiri berdampingan. Ia mempertemukan tempat ibadah dua ummat yang berbeda keyakinan. Lorong ini adalah saksi puluhan bahkan mungkin ratusan tahun bagaimana dua ummat hidup rukun dan beribadah berdampingan dengan damai, tanpa harus saling terganggu satu dengan lainnya.  
Masjidnya bernama Masjid Nurul Falah dan Purenya adalah PureMeru. Kedua tempat ibadah ini memiliki nilai sejarah, serta menjadi tempat belajar bagaimana mengelola perbedaan agar tidak menjadi perpecahan. Saat ini gampang sekali manusia tersulut emosi dan menjadikan perbedaan sebagai alasan untuk berprilaku diluar batas ketentuan atau kebolehan sebagai insan yang mengaku beriman.     
Pure Meru, merupakan Pure yang dipergunakan sebgai tempat ibadh sejak abad silam hingga saat ini. Tembok yang mengelilingi pure sudah berlumut dan mengesankan bahwa pure yang sangat disakralkan ummat Hindu itu sebagai pure tua.
Masjid Nurul Falah , yang jika boleh saya istilahkan sebagai “masjid pasar” karena di masjid inilah para penghuni pasar yang beragama Islam  menunaikan kewajiban shalat jika tiba waktu Zuhur dan Ashar.
Mestinya dua tempat ibadah yang melambangkan kerukunan ummat ini, menjadi contoh bagi siapa saja yang menginginkan hidup damai meskipun banyak pebedaan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar