Senin, 23 April 2012

Tafsir Sesenggak Sasak "Aiq Meneng Teparan Kurek"


 
Secara harfiah sesenggak ini dapat di artikan sebagai Aiq = air, meneng = jernih teparan = dikira , kurek = keruh. Atau “ Air yang bening dikira keruh”  : Orang yang baik-baik disangka jahat/hati-hati menilai orang.
Seringkali kita tertipu, dan hanya melihat zahir dari sebuah objek. Orang baik-baik disangka jahat, mungkin karena pakaian yang dikenakan menunjukkan dia bukan orang baik. Sebaliknya orang jahat dengan tampilan bak manusia bersih, jujur dan soleh membuat kita terkecoh dan akhirnya tertipu. Oleh sebab itu, disinilah kejernihan hati dan kehati-hatian menjadi amat dibutuhkan. Anjuran untuk berprasangka baik sangat relevan dengan sesenggak ini. Dalam anjuran agama berprasangka baik termasuk akhlaq terpuji, dan sebaliknya selalu berprasangka buruk adalah bagian dari akhlaq tercela.
Jika air yang jernih kita anggap keruh, maka sudah saatnya kita memeriksakan mata ke dokter spesialisnya. Mungkin saja terjadi gangguan pada organ penglihatan itu. Itu jika kita mengartikan sesenggak ini secara harfiahnya. Namun sesengak ibarat sebuah rumah, yang akan berbeda memiliki berbagai bentuk jika kita melihat dari sudut pandang berbeda. Artinya sesenggak mememiliki makna luas. Dalam hal ini kita bisa saja mengurai beberapa makna yang tersimpan di dalamnya. Beberapa kemungkinan makna yang bisa kita gali dari sesenggak diatas adalah :
1.    Kehati-hatian menilai sesuatu,  dalam hal apapun kehati-hatian memang di butuhkan. Jangan sampai karena ketidakhati-hatian menjerumuskan kita. Bayangkan saja, betapa banyak orang harus mengalami nasib mengenaskan karena dituduh menjadi tukang santet. Sialnya, mereka dibunuh dengan cara sadis. Dibakar, beserta rumah tempat tinggalnya. Mereka kadang-kadang dituduh dengan alas an mimpi seorang warga. Kasihan.
2.    Berprasangka baik. Hati yang bersih, tentu akan selalu terjaga dari sikap berburuk sangka kepada orang lain. Berprasangka baik terhadap orang lain, akan menghindarkan kita dari penyakit hati dan rasa curiga tanpa alas an. Berprasangka baik akan menjadikan jiwa lebih tenang.
3.   Menuduh tanpa bukti. Menuduh orang tanpa bukti adalah prilaku negativ yang harus di hindari. Salah-salah menuduh oran tanpa bukti bisa menjebak dan membuat kita menjadi seorang tertuduh. Hati-hati dengan sika ini. Agama Islam melarang orang menuduh sesama, demikian pula hukum Negara.
4.    Objektif. Kadang orang terpaksa mengatakan air yang jernih sebagai air yang keruh. Itu karena ia berbeda pandangan secara politik, aliran, agama, atau mazhab. Ini tidak adil. Periksalah kembail jiwa kita. Dalam kondisi apapun kita harus objektif. Yang jernih tetaplah jernih danyang keruh harus jelas kita katakan keruh. Janganlah   perbedaan-perbedaan tersebut membutakan mata hati kita. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar