Selasa, 27 Maret 2012

Ngurisang Tradisi Kesyukuran Orang Sasak




Ngurisang merupakan tradisi turun-temurun suku bangsa Sasak di pulau  Lombok. Tradisi ini adalah bentuk dari rasa syukur orang tua yang telah mendapatkan keturunan/ anak, sebagi penerus silsilah keluarga dikemudian hari. Ngurisang berasal dari kata ”kuris ” atau cukur. Ngurisang  kadang disebut juga dengan  cukuran . Di Abiantubuh  ngurisang  biasanya dilakukan  setelah melewati tradisi pedak api . Ngurisang merupakan rangkaian acara Molang malik  atau pemberian nama pada putra atau putri yang baru lahir. Sebagai tradisi daur hidup, acara ini menjadi kewajiban para orang tua untuk terus menjalankannya ketika anak-anak mereka lahir baik laki atau perempuan, yang pertama, kedua atau seterusnya.  Acara ngurisang didahului dengan pembacaan barzanji  sambil pembacaan barzanji berlangsung, anak yang akan di cukur atau dikuris dibawa keliling jamaah yang menghadiri acara. Satu – persatu para jamaah diberi kesempatan untuk mencukur sang bayi, atau sekedar mengusap keningnya dengan air kembang yang telah disiapkan dalam sebuah nampan. di dalam nampan tersebut biasanya terdapat air kembang, beberapa bunga rampai, beras kuning, gunting sebagi alat cukur, dan uang. Yang paling penting pada acara tersebut adalah pemberian nama dan rangkaian doa oleh pemuka agama yang biasanya mengharapkan agar anak-anak yang dicukur atau di kuris menjadi anak yang Soleh, berbakti kepada orang tua, berguna bagi agama nusa dan bangsa. 


1 komentar:

  1. bos kalau tulis artikel jangan huruf kapital semua dong... habis halamannya.. hehehe.. tapi cakep kok artikelnya.. wiiihh hebattt...

    BalasHapus