Senin, 09 Juli 2012

Amaq Radiah : Penjaga Budaya Sasak




Sudah puluhan tahun Amaq Radiah memelihara peraje  miliknya. Peraje  tersebut ia buat sendiri sekitar 20 tahun silam.  Peraje merupakan alat kelengkapan upacara nyongkolan  maupun besunat  (sunatan) di sebagian masyarakat suku Sasak Lombok Nusa Tenggara Barat.  Peraje biasanya  ponggok (dipikul) oleh empat  atau lebih, tergantung ukurannya.  Ada peraje dalam betuk binatang, biasanya peraje ini ditunggang oleh anak-anak yang dihias layaknya pengantin, laki ataupun perempuan. Peraje biasanya diarak keliling kampong.

“ sudah puluhan tahun saya menjaga perangkat peralatan peraje ini. Satu peraje disewa seratus sampai duaratus lima puluh ribu rupiah perharinya. Peraje ini dalam sehari biasanya diarak 2 atau 3 kali. Bisa pagi hari siang dan sore hari. Ada juga yang diarak pada malam hari “ kata Amaq Radiah saat kampung media menemuinya di Monjok.

Ayah tiga anak ini, terlihat bersahaja dan sederhana. Meski begitu, salah seorang anaknya kuliah di Universitas empat lima Mataram. Sebelumnya sang anak yang menjadi salah satu ketua remaja masjid di kampungnya itu bolak-balik lembar untuk mengikuti pembelajaran di salah satu SMK.  Orang seperti amaq Radiah layak dibantu dan mendapat pembinaan pemerintah, kata sandy salah seorang seniman muda Lombok. “ Peraje sudah sangat jarang dipakai, kalau tidak dijaga ia hanya akan tinggal cerita, Kata seniman itu suatu kesempatan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar