Senin, 30 April 2012


Fasilitas Pendidikan Yang Menjadi “ Racun ”.

Muhammad Shafwan
Hal yang tak pernah kulupakan adalah bahwa pagi itu
aku menyaksikan seorang anak pesisir melarat, teman sebangku
 untuk pertama kalinya memegang pensil dan buku,
dan kemudian pada tahun-tahun berikutnya, setiapa apa pun yang ditulisnya merupakan buah fikiran yang gilang gemilang, karena nanti ia, seorang anak miskin pesisir,akan menerangi nebula yang melingkupi sekolah miskin ini, sebab ia akan berkembang menjadi manusia paling genius yang pernah kujumpai seumur hidupku.
( Andrea Hirata-Novel Laskar Pelangi )

Membaca Novel Laskar Pelangi, tulisan Andrea Hirata, saya amat tersentuh. Meski berkali-kali membacanya, novel laris itu selalu segar dan mendorong keinginan agar kembali dan kembali membacanya. Salah satu tokoh yang amat menyentuh nurani saya adalah Lintang. Anak pesisir yang miskin tapi cerdas. Saya tersentuh dan merinding dengan keperkasaan tokoh itu. Meski Lintang anak  nelayan miskin yang hidup serba prihatin. Kondisi itu tak menyirnakan cita dan semangat belajarnya. Berangkat sekolah sejak Subuh, mengayuh sepeda degan jarak puluhan kilometer. Dengan medan yang berat dan berbahaya. Dan Lintang menunjukkan kegeniusannya dengan “ menerangi nebula yang melingkupi sekolah miskin” .
Kegeniusan Lintang mengingatkan saya pada pertemuan beberapa tahun lalu dengan siswa cerdas asal KLU. Waktu itu saya sering melakukan “pengembaraan” meyusuri tempat - tempat terpencil, untuk berdialog dengan masyarakat bersama kawan-kawan sebuah LSM pendidikan di Kota Mataram. Sebut saja namanya Sabri, ia tinggal jauh dari Kota Mataram. Tepatnya di sekitar Santong Lombok Utara. Waktu itu Sabri masih bersekolah di SLTA. Ia tergolong siswa yang tidak mampu, dengan asupan gizi yang rendah. Sabri hanya makan dua kali dalam sehari. Sebelum berangkat sekolah, ia biasanya hanya sarapan kelapa bakar, lalu memulai perjalanan kurang lebih tiga kilometer menuju sekolah, tempat ia belajar. Ia tergolong siswa yang gigih dan pantang menyerah. Karena itulah, meski dalam kondisi serba terbatas, prestasinya di sekolah selalu membanggakan. Sabri termasuk diantara sedikit siswa cerdas di tempat ia belajar. Sabri juara umum di kelasnya. Bagi saya, secara kinestetik Sabri tergolong cerdas karena setiap hari harus menempuh perjalanan jauh dengan berjalan kaki. Seperti juga para murid lainya, kadang perjalanan dilakukan dengan bertelanjang kaki. Sepatu yang mereka kenakan lebih sering di tenteng, atau di kalungkan di leher. Mereka merasa kasihan terhadap sepatu yang harus rusak karena medan yang ditempuh begitu berat. Melewati jalan menanjak, turun, menyeberangi sungai, serta jalanan penuh bebatuan. Biasanya sepatu tak akan berumur panjang jika terus dipakai di medan seberat itu. Sabri hanyalah salah satu diantara sekian banyak mereka yang hidup sederhana dan bersahaja di daerah terpencil. Kondisi yang prihatin, seakan tempat tinggal mereka  tak terjamah oleh pembangunan infrastuktur transportasi daerah ini. Meski dini, saya jadi menyimpulkan bahwa kesederhanan, kemiskinan, keterbatasan fasilitas, bahkan kekurangan gizi sekalipun tak akan mampu mengubah cita dan semangat untuk terus berprestasi. Justru sebaliknya. Kemiskinan menjadi jamu yang menyehatkan jiwa. Mari membanding kesederhanaan Sabri dengan anak salah seorang tetangga saya. Sebut saja namanya Khairuddin. Sebagai seorang anak, ia tergolong sangat beruntung. Segala keinginannya dengan mudah bisa dikabulkan orang tuanya yang pengusaha barang-barang bekas. Mulai dari sebuah sepeda motor yang harganya di atas duapuluhan juta, laptop dengan modem internet, serta fasiltas penunjang pendidikan lainya ia telah miliki. Sore hari ia biasaya minta sangu kembali kepada orang tuanya untuk mengikuti kursus-kursus dan les privat seperti siswa lainya. Intinya, Khairudin telah mendapatkan kemudahan fasilitas belajar secara formal maupun non formal. Tentulah orang tuanya berharap, agar dengan memberikan fasilitas pendidikan yang layak, nantinya sang anak akan menjadi anak yang berprestasi.  Namun saat pengumuman kenaikan kelas tiba. Khairuddin terkejut. Namanya tidak termasuk di antara siswa yang harus mendaftar ulang di tingkat yang lebih tinggi. Ia tertinggal kelas. Kecewalah kedua orang tuanya. Jerih payah bekerja untuk memberi fasilitas pendidikan yang layak bagi anaknya berujung kegagalan. Amat menyedihkan. Rupanya. Fasilitas pendidikan yang serba memudahkan, bukannya menjadi pemacu meraih prestasi bagi Khairuddin, namun justru menjadi racun yang melemahkan kemampuan dan kemauan belajarnya. Motor yang bagus, mungkin hanya menjadi fasilitas mengikuti tren anak muda gaul. Laptop dengan fasilitas canggih, mungkin saja menjadi sarana bermain game online dan berselancar di dunia maya. Tempat Bimbingan belajar, mungkin saja menjadi tempat bertemu dan bergaul dengan komunitasnya, dalam warna yang kurang positif. Hingga pada akhirnya , Kairuddin mendapatkan hasil yang memuramkan orang tua.

Jika merenungi dua sisi nasib anak manuisa itu, antara yang miskin dan kaya, kalau diajak memilih, pastilah kita memilih yang lebih kaya. Namun jika memilih mendapatkan anak yang berhasil dan gagal, sudah pasti kita akan memilih mendapatkan anak yang berhasil dan berprestasi. Kisah Lintang dalam Novel Laskar Pelangi, atau cerita  Sabri dari Lombok Utara, adalah dua kisah mirip dimana sang anak merasakan kemiskinan sebagai cambuk meraih prestasi. Sedangkan Cerita kegagalan anak tetangga saya, agaknya membuat kita harus berfikir ulang soal bagaimana mengumbar fasilitas berlebihan kepada anak tidak menjadi mudharat. Agar benar-benar bermanfaat. Itu dalam lingkup keluarga. Dalam skala yang lebih luas, saya merasakan orang lebih percaya pada pemberian materi dan fasilitas mewahlah yang menjadi tumpuan utama meningkatkan kualitas hasil didik.lihat saja bagaimana para kepala dan dewan guru, para pengurus komite, dan perencana kebijakan pendidikan mendorong perlombaan membangun fisik. Membangun fasilitas serba mentereng. Dan  setelahnya persoalan pendidikan pun dianggap selesai. Tentu tidak begitu. Lihat saja sekarang. Banyak sekolah mentereng justru menjadi sekolah tempat pamer status sosial. Anak-anak sekolahnya pun konon ikut - ikutan menjadi pajangan para wali murid. Di luar sekolah parade mobil – mobil mewah, sementara di dalam sana anak-anak merasa malu jika tak menenteng handphone jenis dan merek terbaru. Menyedihkan.
 Rasanya, kita harus lebih awal menyadari bahwa fasilitas berlimpah, serba lengkap dan wah, bukan hal yang secara hierarki mesti di nomor satukan. Ia  hanyalah penopang dari kebutuhan pendidikan yang tidak berdiri sendiri. Anggapan bahwa fasilitas adalah hal utama menjadi terbantahkan jika melihat bagaimana mereka yang kurang beruntung dari sisi ekonomi, justru bisa survive dan berprestasi. Pendidikan yang mulia itu, juga ditopang oleh hal lain seperti kasih sayang orang tua yang perlu  diterjemahkan dalam bentuk yang sesungguhnya. Bukan dengan uang.
Tulisan ini pernah dimuat di Radar Lombok

Tidak ada komentar:

Posting Komentar